Tulisan ini
dibuat setelah membaca sebuah artikel di sebuah majalah… Masih dalam suasana
April, yang jaman dulu waktu kita kanak-kanak pasti di awal bulan ini heboh
mikirin baju apa yang bakal kita pake buat karnaval. Yup, karnaval Kartinian..
(hum… dulu diTa pake baju apa ya?? lupa)

Peringatan Hari
Kartini selalu memberikan kesan tersendiri bagi kita, terutama kaum cewek,
dimana pada hari itu adalah hari perefleksian kembali semangat Ibu Kartini,
semangat seorang wanita yang memperjuangkan nasib kaumnya kala itu yang diperlakukan
tidak adil.

RA Kartini wanita kelahiran 21 April 1879 ini
merupakan
perintis perubahan bagi kaum wanita. Ia lahir dari keluarga bangsawan yang
berpikiran maju dan sosoknya yang cekatan, lincah, pintar, suka belajar dan
haus akan ilmu pengetahuan. Saat usia 7 tahun, ia bersekolah di Sekolah Kelas
Dua Belanda. Selain belajar di sekolah, ia juga kerap memperoleh pelajaran
Bahasa Jawa, memasak, menjahit, mengurus Rumah Tangga dan pelajaran agama di
rumahnya. Keluarganya sangat mengedepankan pendidikan. Sebagai seorang gadis
kecil yang lincah ia hanya berpikir mengenai sekolah dan bermain. Hingga suatu
hari seorang teman Belanda-nya bertanya mengenai cita-cita Kartini setelah
tamat sekolah. Ia mulai memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut sampai
akhirnya ia memikirkan untuk mengubah nasib kaum wanita di kemudian hari. Usia
12 tahun, setelah tamat sekolah dasar, Kartini menjalani masa pingitan.
Hidupnya berubah, ia kesepian dan tidak boleh melanjutkan pendidikan. Hidupnya
ibarat burung dalam sangkar emas. Keluarganya yang memegang teguh
adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki perubahan.
Kartini hanya bisa mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat. Ia
rajin menulis surat kepada temantemannya di Belanda. Isinya mengandung
cita-cita yang luhur, terutama untuk mengangkat derajat wanita Indonesia.
Berkat surat-surat ini, tahun 1903 didirikan Sekolah Kartini Pertama di
Semarang. Dan di usia 25 tahun, R.A Kartini akhirnya menghembuskan nafas
terakhirnya. (Mardanas Safwan dalam buku Kartini, Riwayat dan Perjuangannya)
Perjuangan R.A Kartini tidak serta merta
didapatkan begitu saja, butuh proses dan perjalanan panjang dalam menapakinya.
Ketidaksetujuan keluarga ditambah celaan sebagai penentang adat dan tradisi
datang selama proses menuju perubahan. Namun R.A Kartini tidak berhenti, ia
tetap dengan pendiriannya untuk melawan kebiasaan atau adat yang kuno dan
kolot. Ia ingin agar wanita Indonesia setara dengan pria, memiliki hak bukan hanya
kewajiban dan juga bisa sejajar dengan wanita-wanita dari negara lain.
Sekarang, berkat perjuangan ibu Kartini dan kartini-kartini
yang lain, alhamdulillah kita dapat hidup sejajar dengan kaum pria, diakui dan
dihormati sebagai manusia seutuhnya.. Walaupun masih terdapat beberapa kasus
yang terjadi yang mendiskreditkan perempuan, memandang sebelah mata bahkan
melecehkan kaum perempuan. Alhamdulillah nya lagi, kita sebagai wanita muslim,
atau muslimah, sudah bisa mengenakan jilbab sebagai identitas kita sekaligus
pelindung dan kewajiban kita sebagai sebagai seorang muslimah. ( kadang suka sedih klo denger pelaranggan
jilbab di negara2 barat sono!!)

Oh ya, menilik tentang jilbab di Indonesia,
berdasarkan sejarahnya pemakaian jibab di Indonesia secara bebas baru akhir2
ini, sekitar akhir 80-an. Dulu, jilbab dipandang sebelah mata bahkan orang yang
memakai jilbab kala itu sempat mendapatkan cacian dan hinaan dari masyarakat. Berkat
perjuangan dari para tokoh islam dan muslimah kala itu, alhamdulillah sekarang
kita bisa memakai jilbab tanpa halangan, bahkan industri fashion dengan segmen muslimah kini makin menjamur…
Muncul pertanyaan menarik…. “apakah ibu Kartini bila kala itu beliau sudah tahu tentang jilbab dan
kewajiban memakainya akan memakai jilbab??”
Naaah… diTa
akan sangat senang, bila teman2 mau menjawab open question ini… Dalam rangka Kartinian, untuk wanita
Indonesia
, khususnya muslimah
Indonesia
yang lebih maju dan go global….. Chaiyooo!!^^,))w